Artikel ini bagian dari panduan ibu hamil, halaman induk yang mengumpulkan seluruh bacaan untuk tahap ini.
TFU Sesuai Usia Kehamilan: Tabel dan Cara Membacanya
Oleh Tim Redaksi Asuh Anak· 13 menit baca

Pertanyaan tentang TFU sesuai usia kehamilan hampir selalu muncul setelah Bunda pulang dari posyandu dan melihat sederet angka di Buku KIA yang belum sempat dijelaskan. TFU adalah singkatan dari tinggi fundus uteri, yaitu tinggi puncak rahim. Menurut Kemenkes RI, pengukuran tinggi fundus uteri bertujuan untuk memperkirakan perkembangan janin dalam kandungan, dengan cara mengukur jarak dari puncak tulang panggul hingga ke bagian teratas dari perut ibu hamil. Artikel ini akan membahas apa yang sebenarnya dinilai bidan dari angka itu, tabel rujukan yang benar-benar dipakai dalam pedoman Kemenkes, cara pengukurannya, serta kapan hasil TFU perlu ditindaklanjuti dokter. Kabar baiknya, sebagian besar kecemasan seputar angka ini bisa mereda begitu Bunda paham cara membacanya.
Apa Itu TFU dan Mengapa Diukur Setiap Kontrol
Rahim tumbuh seiring bertambahnya usia kehamilan. Puncak rahim yang tadinya tersembunyi di balik tulang kemaluan perlahan naik, melewati pusar, lalu terus mendekati ulu hati menjelang persalinan. Titik teratas itulah yang disebut fundus uteri, dan jaraknya dari tulang kemaluan itulah yang dicatat sebagai TFU.
Pengukuran TFU bukan pemeriksaan tambahan yang opsional. Kemenkes RI memasukkannya sebagai salah satu dari sepuluh komponen standar pelayanan antenatal, yang dikenal sebagai 10T. Urutannya adalah timbang berat badan dan ukur tinggi badan, ukur tekanan darah, nilai status gizi lewat lingkar lengan atas, ukur tinggi puncak rahim atau fundus uteri, tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin, skrining status imunisasi tetanus, pemberian tablet tambah darah, tes laboratorium, tata laksana kasus, dan temu wicara atau konseling. TFU menempati posisi keempat, dan menariknya, pengukuran tinggi fundus sudah menjadi bagian dari pemeriksaan kehamilan di Indonesia sejak era pelayanan 7T, jauh sebelum pedoman diperluas menjadi 10T.
Kemenkes RI menganjurkan pemeriksaan kehamilan dilakukan minimal enam kali selama kehamilan, dengan distribusi satu kali pada trimester pertama, dua kali pada trimester kedua, dan tiga kali pada trimester ketiga. Setiap kali kontak itulah TFU diukur ulang. Alasannya sederhana: yang dicari bukan satu angka bagus di satu hari, melainkan pola pertumbuhan dari waktu ke waktu. Bila Bunda ingin memastikan usia kehamilan saat ini sebelum membaca hasil pengukuran, kalkulator kehamilan bisa membantu memperkirakannya.
Tabel Rujukan TFU Sesuai Usia Kehamilan Menurut Pedoman Kemenkes
Inilah bagian yang paling sering dicari, dan sekaligus yang paling sering disalahpahami. Kemenkes RI tidak menerbitkan daftar "berapa sentimeter TFU normal di minggu ke sekian" untuk dihafal ibu hamil. Yang ada dalam Pedoman Pelayanan Antenatal Terpadu adalah titik-titik rujukan dan ambang batas yang menandakan seorang ibu hamil perlu dirujuk ke dokter. Ini justru lebih berguna, karena yang perlu Bunda kenali bukan angka ideal, melainkan kapan hasilnya perlu ditindaklanjuti.
Berikut tabel rujukan TFU sesuai usia kehamilan berdasarkan Pedoman Pelayanan Antenatal Terpadu Edisi Ketiga terbitan Kemenkes RI:
| Periode kehamilan | Cara menilai puncak rahim | Indikasi dirujuk ke dokter |
|---|---|---|
| Trimester I (0 sampai 12 minggu) | Palpasi atau perabaan perut sejak awal trimester I, dilanjutkan pemeriksaan Leopold I di akhir trimester I | TFU sudah teraba di atas simfisis (tulang kemaluan) |
| Sekitar 24 minggu | Pengukuran dengan pita ukur, dibandingkan dengan posisi pusar dan angka sentimeter | TFU berada di bawah pusat, atau kurang dari 20 cm |
| Trimester III (lebih dari 24 minggu sampai kelahiran) | Pengukuran pita ukur di setiap kontak, hasilnya diplot ke grafik evaluasi kehamilan | TFU lebih dari 38 cm |
Perhatikan bahwa ketiganya adalah batas, bukan target. Kalau TFU Bunda pada kehamilan 24 minggu tercatat di atas 20 cm dan puncak rahim sudah melewati pusar, itu tidak otomatis berarti "sempurna", dan sebaliknya angka yang mendekati batas tidak otomatis berarti bahaya. Penilaian akhirnya tetap ada pada bidan atau dokter yang memeriksa.
Selain TFU, tenaga kesehatan juga melakukan pemeriksaan perabaan perut bertahap yang disebut manuver Leopold. Pedoman Kemenkes menjadwalkannya seperti ini:
| Teknik | Waktu pemeriksaan | Tujuan |
|---|---|---|
| Palpasi abdomen | Awal trimester I | Meraba ada atau tidaknya massa dalam perut dan menentukan tinggi fundus uteri |
| Leopold I | Akhir trimester I | Menentukan tinggi fundus uteri dan bagian janin yang terletak di fundus |
| Leopold II | Trimester II dan III | Menentukan bagian janin pada sisi kiri dan kanan ibu |
| Leopold III | Trimester II dan III | Menentukan bagian janin yang terletak di bagian bawah rahim |
| Leopold IV | Trimester III, usia kehamilan lebih dari 36 minggu | Menentukan seberapa jauh janin masuk ke pintu atas panggul |
Mengapa Tidak Ada Daftar Angka Per Minggu
Banyak sumber di internet menyajikan tabel TFU lengkap dari minggu ke-12 sampai ke-40 seolah-olah setiap minggu punya angka pastinya. Kami memilih tidak ikut menyalinnya, karena tabel semacam itu tidak kami temukan dalam pedoman resmi Kemenkes RI maupun WHO, dan menyajikan angka tanpa sumber justru berisiko membuat Bunda salah menyimpulkan.
Cara kerja pemantauan yang sesungguhnya berbeda. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu yang disusun Kemenkes RI bersama WHO, POGI, dan IBI meminta tenaga kesehatan memantau tumbuh kembang janin dengan mengukur tinggi fundus uteri, lalu menyesuaikannya dengan grafik tinggi fundus. Buku KIA terbitan Kemenkes juga menyediakan halaman khusus bernama Grafik Evaluasi Kehamilan, tempat hasil TFU dicatat dari kunjungan ke kunjungan. Pedoman Antenatal Terpadu menegaskan bahwa apabila hasil pemantauan dan evaluasi melewati garis batas grafik, ibu hamil harus dikonsultasikan ke dokter.
Jadi yang dinilai adalah posisi titik Bunda pada grafik dan arah tren dari bulan ke bulan, bukan kecocokan dengan satu angka hafalan. Inilah alasan mengapa membawa dan mengisi Buku KIA setiap kontrol jauh lebih berguna daripada mencocokkan hasil pengukuran dengan tabel di internet.
Cara Bidan Mengukur TFU dan Kenapa Angkanya Bisa Berbeda
Prinsip pengukurannya sederhana: bidan menentukan tepi atas tulang kemaluan sebagai titik awal, meraba puncak rahim sebagai titik akhir, lalu mengukur jarak keduanya. Yang membuat hasilnya butuh ketelitian adalah kedua titik itu ditentukan lewat perabaan, sehingga teknik pemeriksa sangat berpengaruh.
Soal kapan pita ukur mulai dipakai, dua dokumen Kemenkes menyebut batas yang sedikit berbeda, dan wajar bila Bunda menemukan keduanya. Pedoman Pelayanan Antenatal Terpadu menyatakan standar pengukuran menggunakan pita pengukur setelah kehamilan 24 minggu. Sementara Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu menyebut tinggi fundus uteri diukur menggunakan pita ukur bila usia kehamilan lebih dari 20 minggu. Benang merahnya sama: pita ukur dipakai pada paruh kedua kehamilan, saat rahim sudah cukup tinggi untuk diukur secara bermakna. Sebelum periode itu, puncak rahim dinilai lewat perabaan dan penanda tubuh, bukan lewat angka sentimeter.
Ada alasan praktis di balik batas itu. Pada trimester pertama, rahim masih berada di dalam rongga panggul sehingga puncaknya belum bisa dijangkau dengan andal dari luar. Justru sebaliknya yang menjadi perhatian: pedoman Kemenkes menyebut TFU yang sudah teraba di atas simfisis pada trimester I sebagai temuan yang perlu dirujuk ke dokter, karena rahim yang tampak lebih besar dari perkiraan pada fase sedini itu perlu ditelusuri penyebabnya. Setelah rahim naik melewati tulang panggul, barulah pengukuran dengan pita ukur memberi angka yang bisa dibandingkan dari waktu ke waktu.
Karena itu pula, selisih satu atau dua sentimeter antar pemeriksa atau antar kunjungan adalah hal yang biasa. Beberapa hal yang lazim memengaruhi hasil antara lain:
- Posisi dan letak bayi saat pengukuran dilakukan, yang bisa membuat puncak rahim terasa lebih tinggi atau lebih rendah.
- Kondisi kandung kemih Bunda, karena kandung kemih yang penuh dapat mendorong rahim ke atas.
- Perbedaan pemeriksa, sebab titik puncak rahim ditentukan dengan perabaan, bukan alat otomatis.
- Kehamilan kembar, yang membuat ukuran rahim tidak bisa dibandingkan dengan patokan kehamilan tunggal.
- TFU dibaca sebagai tren lintas kunjungan, bukan angka tunggal.
- Pita ukur dipakai pada paruh kedua kehamilan, bukan sejak awal.
- Angka baru bermakna setelah diplot ke grafik evaluasi kehamilan di Buku KIA.
- Yang perlu dikenali adalah batas rujukan, bukan angka ideal per minggu.
TFU Tidak Sesuai Usia Kehamilan, Apa Artinya
Ini kekhawatiran yang paling sering dibawa pulang dari ruang periksa. Pedoman Pelayanan Antenatal Terpadu Kemenkes RI menjelaskannya dengan kalimat yang sebaiknya dibaca pelan-pelan: pengukuran tinggi fundus pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan untuk mendeteksi pertumbuhan janin sesuai atau tidak dengan umur kehamilan, dan jika tinggi fundus tidak sesuai dengan umur kehamilan, kemungkinan ada gangguan pertumbuhan janin.
Kata kuncinya adalah "kemungkinan". Pemeriksaan ini berfungsi sebagai penyaring awal, bukan alat diagnosis. Hasil yang tidak sesuai adalah tanda bahwa perlu ada pemeriksaan lanjutan, misalnya pemeriksaan ulang pada kunjungan berikutnya atau pemeriksaan USG yang kini juga masuk dalam standar pemeriksaan laboratorium dan penunjang menurut Kemenkes RI. Dari sanalah tenaga kesehatan bisa menilai kondisi janin dengan lebih pasti.
Perlu ditegaskan pula bahwa keputusan apa pun yang menyusul, entah itu pemeriksaan tambahan, perubahan pola makan, pemberian suplemen, atau rujukan ke fasilitas yang lebih lengkap, harus datang dari tenaga kesehatan yang memeriksa Bunda secara langsung. Konsultasikan dengan dokter atau bidan untuk penilaian dan tindakan yang sesuai dengan kondisi Anda. Artikel seperti ini berguna untuk membuat Bunda paham istilahnya dan lebih siap bertanya di ruang periksa, tetapi tidak bisa menggantikan orang yang benar-benar meraba perut Bunda dan melihat riwayat kehamilannya.
Perlu diingat juga bahwa TFU yang tampak lebih kecil dari perkiraan tidak selalu berarti kekurangan gizi, dan TFU yang lebih besar tidak selalu berarti bayi besar. Perbedaan perhitungan usia kehamilan saja sudah bisa menggeser hasilnya. Bila usia kehamilan Bunda ditetapkan dari hari pertama haid terakhir sementara siklus haid tidak teratur, selisih dengan usia kehamilan sesungguhnya bisa cukup besar. Buku KIA edisi terbaru bahkan menyediakan kolom khusus untuk mencatat apakah ada selisih tiga minggu atau lebih antara usia kehamilan menurut USG trimester I dan USG trimester III. Untuk memahami penghitungan usia kehamilan lebih jauh, Bunda bisa membaca 7 bulan berapa minggu kehamilan.
Apa Kata WHO tentang Pengukuran Tinggi Fundus
Menarik untuk diketahui, WHO memandang pengukuran ini dengan nada yang cukup hati-hati. Dalam rekomendasi WHO tahun 2016 tentang asuhan antenatal untuk pengalaman kehamilan yang positif, poin B.2.2 menyatakan bahwa mengganti perabaan perut dengan pengukuran tinggi fundus dari simfisis untuk menilai pertumbuhan janin tidak direkomendasikan sebagai cara memperbaiki luaran perinatal, dan perubahan dari apa yang biasa dipraktikkan di suatu tempat, entah itu perabaan perut atau pengukuran tinggi fundus, juga tidak direkomendasikan.
Rekomendasi itu dikategorikan WHO sebagai rekomendasi yang bergantung konteks. Artinya, WHO tidak mengatakan pengukuran TFU tidak berguna. WHO mengatakan bukti yang ada belum cukup untuk menyimpulkan bahwa satu metode lebih unggul dari yang lain, sehingga setiap negara dipersilakan meneruskan praktik yang sudah berjalan. Indonesia memilih meneruskan keduanya sekaligus, yaitu TFU diukur dan perabaan Leopold tetap dilakukan, sebagaimana tertulis dalam pedoman Kemenkes.
Bagi Bunda, pesan praktisnya justru melegakan. Ketelitian pemantauan kehamilan tidak bertumpu pada satu pengukuran, melainkan pada rangkaian kontak dengan tenaga kesehatan. WHO sendiri merekomendasikan model asuhan antenatal dengan delapan kali kontak, yaitu pada usia kehamilan 12, 20, 26, 30, 34, 36, 38, dan 40 minggu. Jadi kalau ada satu angka yang belum meyakinkan, kunjungan berikutnya adalah kesempatan untuk melihatnya lagi. Gambaran menyeluruh soal apa saja yang dipantau sepanjang kehamilan bisa Bunda baca di panduan kehamilan kami.
Kapan Harus ke Dokter atau Bidan
Selain tiga batas TFU dalam tabel di atas, Pedoman Pelayanan Antenatal Terpadu Kemenkes RI juga mencantumkan sejumlah temuan lain yang menjadi indikasi untuk dirujuk ke dokter. Beberapa yang berkaitan langsung dengan pemantauan kehamilan antara lain:
- Tekanan darah di atas 140/90 mmHg, atau di bawah 90/60 mmHg, atau kenaikan tekanan sistolik lebih dari 30 mmHg.
- Lingkar lengan atas kurang dari 23,5 cm, yang menandakan risiko kekurangan energi kronis.
- Berat badan turun lebih dari 2 kg per bulan pada trimester I, naik kurang dari 1 kg per bulan pada trimester II, atau naik lebih dari 2 kg per bulan pada trimester III.
- Denyut jantung janin kurang dari 110 kali per menit atau lebih dari 160 kali per menit, atau terdengar di lebih dari satu tempat.
- Teraba dua atau lebih bagian besar janin saat pemeriksaan Leopold.
- Hasil pemantauan yang melewati garis batas pada grafik evaluasi kehamilan di Buku KIA.
Di luar hasil pengukuran, Kemenkes RI juga meminta ibu hamil segera memeriksakan diri bila mengalami tanda seperti muntah berlebihan sampai tidak bisa makan dan minum, perdarahan, nyeri perut hebat, sakit kepala berat, demam lebih dari dua hari, keluar cairan berlebihan dan berbau dari jalan lahir, atau gerakan janin berkurang maupun tidak terasa sejak kehamilan 20 minggu.
Perlu ditegaskan, dirujuk ke dokter bukan berarti ada sesuatu yang buruk sudah terjadi. Rujukan adalah cara sistem kesehatan memastikan hal yang perlu dilihat lebih dekat memang dilihat lebih dekat. Bidan yang merujuk Bunda sedang menjalankan pedoman, bukan sedang menyampaikan vonis.
Yang Bisa Bunda Lakukan di Rumah
Kabar melegakannya, peran Bunda dalam urusan TFU justru bukan mengukur, melainkan memastikan pemantauannya berjalan utuh. Beberapa hal yang paling membantu:
- Datang kontrol sesuai anjuran, minimal enam kali selama kehamilan dengan distribusi satu kali di trimester pertama, dua kali di trimester kedua, dan tiga kali di trimester ketiga.
- Selalu bawa Buku KIA setiap kontrol, dan pastikan hasil TFU dicatat serta diplot ke Grafik Evaluasi Kehamilan. Tanpa catatan berkelanjutan, tren pertumbuhan sulit dibaca.
- Tanyakan hasilnya saat itu juga. Kemenkes RI menempatkan temu wicara atau konseling sebagai bagian resmi dari pelayanan, jadi bertanya bukan merepotkan petugas, melainkan hak Bunda.
- Catat perhitungan usia kehamilan dari hari pertama haid terakhir maupun dari hasil USG trimester pertama, karena keduanya menjadi dasar penilaian kesesuaian TFU.
- Jaga asupan gizi harian dan minum tablet tambah darah sesuai anjuran tenaga kesehatan. Panduan praktisnya ada pada artikel makanan sehat untuk ibu hamil.
- Perhatikan gerakan janin mulai kehamilan 20 minggu, dan segera hubungi tenaga kesehatan bila berkurang atau tidak terasa.
Satu hal yang layak diulang: melihat angka TFU yang berbeda dari perkiraan lalu merasa cemas adalah reaksi yang sangat manusiawi, dan tidak ada yang salah dengan itu. Namun angka tersebut dibuat untuk dibaca oleh tenaga kesehatan bersama konteksnya, bukan untuk dijadikan bahan menebak sendiri di rumah. Memahami TFU sesuai usia kehamilan sebaiknya membuat Bunda lebih tenang saat kontrol dan lebih siap bertanya, bukan menambah beban pikiran. Untuk menelusuri topik lain seputar kehamilan, Bunda bisa mengunjungi kumpulan artikel kehamilan di Asuh Anak.
Sumber
- Kemenkes RI - Ayo Sehat: Pentingnya Pemeriksaan Kehamilan (ANC) di Fasilitas Kesehatan
- Kemenkes RI - Pedoman Pelayanan Antenatal Terpadu (PDF)
- Kemenkes RI - Pedoman Pelayanan Antenatal Terpadu Edisi Ketiga 2020 (repositori resmi Kemenkes)
- Kemenkes RI, WHO, POGI, IBI - Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan (PDF)
- Kemenkes RI - Buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) 2024 (PDF)
- WHO - 2016 WHO Recommendations: Antenatal Care for a Positive Pregnancy Experience (PDF)
Artikel ini disusun sebagai edukasi dan bukan pengganti konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan. Angka tinggi fundus uteri hanya bermakna bila dinilai bersama hasil pemeriksaan lain dan riwayat kehamilan Anda. Untuk penilaian, diagnosis, dan penanganan yang sesuai dengan kondisi kehamilan Anda, silakan berkonsultasi dengan bidan, dokter, atau petugas kesehatan terdekat.
Pertanyaan yang sering muncul
Apa itu TFU dalam pemeriksaan kehamilan?
Mengapa TFU harus sesuai usia kehamilan?
Mulai usia kehamilan berapa TFU diukur dengan pita ukur?
Berapa TFU normal pada kehamilan 24 minggu?
Apakah TFU yang tidak sesuai usia kehamilan berarti bayi bermasalah?
Apakah TFU bisa diukur sendiri di rumah?
Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.
Punya pertanyaan seputar kehamilan?
Tanya lewat WhatsApp

