Baru: alat cek usia dan milestone anak sudah bisa dipakai gratis. Coba sekarang

Artikel ini bagian dari panduan ibu hamil, halaman induk yang mengumpulkan seluruh bacaan untuk tahap ini.

Kehamilan

Ondansetron untuk Ibu Hamil: Kapan Diresepkan dan Risikonya

Oleh Tim Redaksi Asuh Anak· 12 menit baca

Ondansetron untuk Ibu Hamil: Kapan Diresepkan dan Risikonya

Ondansetron untuk ibu hamil adalah obat antimual yang diberikan lewat resep dokter, umumnya ketika mual dan muntah sudah sangat mengganggu dan cara-cara sederhana belum menolong. Menurut MotherToBaby, layanan informasi teratologi yang diterbitkan di NCBI Bookshelf milik National Library of Medicine (NIH), ondansetron selama ini dipakai untuk mengatasi mual dan muntah setelah operasi, kemoterapi, atau terapi radiasi, dan juga pernah diresepkan pada kehamilan untuk membantu meredakan gejala mual dan muntah kehamilan (nausea and vomiting of pregnancy atau NVP), yang sehari-hari kita kenal sebagai morning sickness. Kalau Bunda sedang membaca ini sambil menahan mual, atau baru saja mendengar nama obat ini dari dokter dan ingin memahaminya lebih dulu, artikel ini akan membahas cara kerjanya, kapan biasanya diresepkan, apa kata penelitian tentang keamanannya, serta risikonya, dengan satu catatan penting yang tidak bisa ditawar: keputusan minum obat apa pun saat hamil harus lewat konsultasi dengan dokter atau bidan.

Apa Itu Ondansetron dan Kapan Obat Ini Dipakai

Ondansetron adalah obat antimual. MotherToBaby menjelaskan bahwa obat ini digunakan untuk menangani mual dan muntah setelah operasi, kemoterapi, atau terapi radiasi. Salah satu nama dagang yang dikenal untuk ondansetron adalah Zofran. Penyebutan nama dagang ini semata agar Bunda tidak bingung bila menemukan nama berbeda di kemasan atau di resep, bukan berarti merek tertentu lebih baik atau dianjurkan.

Selain indikasi di atas, MotherToBaby menyebutkan bahwa ondansetron juga pernah diresepkan selama kehamilan untuk membantu gejala mual dan muntah kehamilan. Artinya, penggunaannya pada ibu hamil adalah keputusan klinis yang dibuat dokter setelah menimbang kondisi masing-masing pasien, bukan sesuatu yang berlaku otomatis untuk semua ibu yang merasa mual.

Di sinilah letak perbedaan penting yang sering terlewat. Mual biasa di awal kehamilan tidak sama dengan mual muntah berat yang membuat ibu tidak bisa makan dan minum sama sekali. Keduanya butuh pendekatan yang berbeda, dan hanya tenaga kesehatan yang bisa menilai Bunda ada di titik yang mana.

Ringkasan singkat. Poin-poin utama tentang ondansetron pada kehamilan:
  • Ini obat resep, bukan obat yang dibeli dan diminum sendiri.
  • Umumnya dipertimbangkan saat mual muntah sudah berat, bukan untuk mual ringan.
  • Sebagian besar penelitian tidak menemukan peningkatan cacat lahir, tetapi bukti belum sepenuhnya seragam.
  • Semua keputusan tentang obat ini ada di tangan dokter atau bidan yang memeriksa Bunda.

Mual Muntah Biasa dan Hiperemesis Gravidarum

Sebelum bicara obat, ada baiknya memahami dulu kondisi yang mau diatasi. Menurut Kemenkes RI, mual dan muntah yang sering terjadi pada pagi hari, yang disebut morning sickness, wajar terjadi pada awal kehamilan. Bahkan kondisi ini kadang tidak hanya muncul pada pagi hari, tetapi juga siang, sore, atau malam. Kemenkes RI juga menyebutkan bahwa walau tidak membahayakan ibu dan janin, morning sickness dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari.

Soal waktunya, Kemenkes RI menjelaskan bahwa morning sickness paling sering terjadi pada trimester pertama kehamilan atau sekitar bulan kedua dan ketiga kehamilan, meski ada juga ibu hamil yang mengalaminya sejak bulan pertama. Biasanya gejalanya akan mulai mereda pada pertengahan trimester kedua, walaupun sebagian ibu mengalaminya sepanjang kehamilan. Jadi bila Bunda sedang berada di puncak keluhan ini, ada kemungkinan besar keadaannya akan membaik seiring bertambahnya usia kehamilan.

Namun ada kondisi yang lebih berat. Kemenkes RI menjelaskan bahwa pada beberapa wanita, morning sickness dengan gejala parah bahkan dapat berlanjut menjadi hiperemesis gravidarum, yaitu mual dan muntah parah yang dialami ibu hamil. Kondisi ini rentan menyebabkan dehidrasi dan penurunan berat badan yang drastis. Bila ibu hamil mengalami hiperemesis gravidarum, penanganan intensif perlu dilakukan untuk mencegah komplikasi.

Perbedaan inilah yang menjelaskan mengapa obat seperti ondansetron ada dalam pembicaraan. Mual yang membuat tidak nyaman biasanya bisa dikelola tanpa obat. Mual dan muntah yang membuat ibu kehilangan cairan dan berat badan adalah masalah medis yang perlu ditangani, dan membiarkannya juga punya risiko tersendiri.

Kapan Dokter Meresepkan Ondansetron untuk Ibu Hamil

Kemenkes RI menyatakan bahwa obat dan vitamin baru akan diberikan oleh dokter jika ibu hamil mengalami gejala morning sickness yang parah, dan dokter akan memberikan suplemen vitamin B6 serta obat antimual yang aman untuk ibu hamil. Kemenkes RI juga menegaskan, jika ibu hamil merasa perlu mengonsumsi obat antimual, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

Dari situ terlihat polanya. Obat bukan langkah pertama. Pada kebanyakan kasus, menurut Kemenkes RI, morning sickness adalah kondisi yang tidak memerlukan penanganan medis khusus. Obat masuk ke gambaran ketika gejalanya sudah parah, dan pemilihannya dilakukan oleh tenaga kesehatan yang menilai kondisi Bunda secara langsung.

Karena itu, pertanyaan "kapan ondansetron diresepkan" sebenarnya tidak bisa dijawab dengan satu aturan seragam untuk semua orang. Dokter akan mempertimbangkan seberapa berat gejalanya, apakah Bunda masih bisa makan dan minum, apakah ada tanda dehidrasi, apakah pilihan lain sudah dicoba, serta kondisi kesehatan Bunda secara keseluruhan. Konsultasikan dengan dokter atau bidan untuk dosis dan keputusan yang sesuai dengan kondisi Anda, karena artikel ini tidak bisa menggantikan penilaian langsung terhadap tubuh Bunda.

Perlu ditegaskan juga bahwa artikel ini sengaja tidak mencantumkan dosis. Bukan karena informasinya dirahasiakan, melainkan karena dosis obat pada kehamilan bergantung pada banyak hal yang hanya bisa dinilai tenaga kesehatan, dan menyalin dosis dari internet justru berbahaya.

Apakah Ondansetron Aman untuk Ibu Hamil? Ini Kata Penelitian

Ini pertanyaan yang paling sering membuat cemas, dan jawabannya perlu disampaikan apa adanya, tidak dilebih-lebihkan ke arah mana pun. MotherToBaby merangkum data yang sudah dipublikasikan sebagai berikut.

Soal cacat lahir, MotherToBaby menjelaskan bahwa cacat lahir bisa terjadi pada kehamilan mana pun karena berbagai sebab, dan dari seluruh bayi yang lahir setiap tahun sekitar 3 dari 100 bayi (3%) akan memiliki cacat lahir. Angka 3% itu adalah risiko dasar yang berlaku umum, tanpa ada kaitannya dengan obat apa pun. Terkait ondansetron, MotherToBaby menyebutkan bahwa beberapa penelitian melaporkan peningkatan kurang dari 1% (kurang dari 1 dari 100) untuk kemungkinan celah langit-langit (lubang pada atap mulut yang dapat diperbaiki dengan operasi) atau kelainan jantung. Namun penelitian lain tidak mengonfirmasi temuan tersebut, dan sebagian besar penelitian tidak melaporkan peningkatan kemungkinan cacat lahir di antara ribuan orang yang menggunakan ondansetron saat hamil.

Soal keguguran, MotherToBaby menyebutkan bahwa keguguran adalah hal yang umum dan dapat terjadi pada kehamilan mana pun karena berbagai sebab, dan penelitian tidak melaporkan peningkatan kemungkinan keguguran dengan penggunaan ondansetron pada kehamilan.

Soal masalah kehamilan lainnya, MotherToBaby menyatakan bahwa penelitian tidak menemukan peningkatan kemungkinan kehilangan kehamilan, kelahiran prematur (lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu), atau berat lahir rendah (kurang dari 2500 gram saat lahir) ketika ondansetron digunakan selama kehamilan.

Soal perkembangan anak setelahnya, MotherToBaby menyebutkan satu penelitian yang mengamati 78 bayi yang terpapar ondansetron kapan pun selama kehamilan. Saat diperiksa pada usia 7 hari sampai 2 bulan, tidak ada perilaku tidak biasa yang dilaporkan. Survei lanjutan yang diisi orang tua dari sekitar 25 anak tersebut, ketika anak berusia 1 sampai 5 tahun, juga tidak melaporkan perbedaan perilaku dibandingkan anak yang tidak terpapar ondansetron selama kehamilan.

Catatan Bunda. Membaca hasil penelitian yang tidak seragam memang bikin bingung, dan itu wajar. Cara paling sehat membacanya begini: sebagian besar penelitian menenangkan, sebagian kecil menemukan sinyal yang belum terkonfirmasi, dan tidak ada satu pun angka di atas yang bisa memutuskan apa yang terbaik untuk Bunda. Yang bisa memutuskan adalah dokter atau bidan yang tahu riwayat kesehatan, usia kehamilan, dan seberapa berat gejala Bunda. Bawa pertanyaan ini ke kontrol berikutnya, dan tidak apa-apa untuk bertanya sampai Bunda benar-benar paham.

Risiko dan Efek Samping yang Perlu Diketahui

Selain data di atas, ada satu hal yang MotherToBaby soroti secara khusus. Ketika dikonsumsi pada dosis tinggi, ada laporan bahwa ondansetron mungkin menyebabkan gangguan irama jantung (disebut pemanjangan interval QT) pada orang yang mengonsumsinya. Pada kasus yang berat, kondisi ini dapat berkembang menjadi irama jantung abnormal yang dikenal sebagai Torsades de Pointes. MotherToBaby menyarankan, bila Anda sedang mengonsumsi ondansetron, bicarakan dengan tenaga kesehatan Anda mengenai dosis Anda dan cara mewaspadai perubahan pada irama jantung.

Poin ini justru memperkuat alasan mengapa obat ini tidak boleh dipakai sembarangan atau ditambah sendiri dosisnya ketika mual terasa belum reda. Penyesuaian dosis adalah wewenang tenaga kesehatan.

Selain itu, Kemenkes RI mengingatkan prinsip yang berlaku untuk obat apa pun pada kehamilan: perpindahan obat dari ibu ke janin melalui plasenta memberikan efek yang bervariasi terhadap janin, mulai dari tidak menimbulkan efek apa pun hingga berefek negatif seperti kecacatan atau gangguan perkembangan janin. Kemenkes RI juga menekankan bahwa masa kehamilan trimester pertama (3 bulan pertama) adalah masa pembentukan organ janin seperti jantung, otak, tangan, dan kaki, sehingga sebagian hal ini akan berdampak pada risiko terjadinya cacat pada janin. Inilah sebabnya kehati-hatian pada trimester awal selalu ditekankan.

Kemenkes RI menambahkan pesan yang sangat relevan di sini: hindari penggunaan obat yang tidak perlu dan tidak diketahui keamanannya, serta perhatikan manfaat dan risikonya. Kemenkes RI juga menganjurkan untuk menghindari penggunaan obat dalam jumlah banyak (polifarmasi).

Yang Bisa Dicoba Lebih Dulu Sebelum Obat Resep

Kabar baiknya, ada banyak langkah yang bisa dicoba sebelum sampai ke obat resep, dan sebagian besar ibu tertolong dengan cara-cara ini.

Pedoman WHO tentang perawatan antenatal untuk pengalaman kehamilan yang positif merekomendasikan jahe, chamomile, vitamin B6, dan/atau akupunktur untuk meredakan mual di awal kehamilan, disesuaikan dengan preferensi ibu dan pilihan yang tersedia.

Kemenkes RI juga memberikan daftar cara meredakan keluhan morning sickness yang bisa dilakukan sendiri di rumah:

  • Mengonsumsi makanan ringan seperti biskuit saat bangun tidur, sebelum beranjak dari tempat tidur.
  • Makan dalam porsi kecil, tetapi lebih sering.
  • Menghindari makanan yang pedas dan berlemak.
  • Minum air putih lebih banyak dan menghindari minuman berkafein.
  • Mengonsumsi suplemen kehamilan tepat sebelum tidur bila mual muncul setelah meminumnya.
  • Mencukupi kebutuhan istirahat, karena kurang istirahat juga bisa memicu mual dan muntah.
  • Menghirup udara segar dan menenangkan pikiran.
  • Menghindari pengharum ruangan yang berbau menyengat.
  • Menghirup aroma buah-buahan seperti lemon, jeruk, atau mint.

Kemenkes RI juga menyebut bahwa saat merasa mual, ibu hamil dapat mengonsumsi makanan yang asin, roti bakar, pisang, jagung, biskuit, perasan lemon, atau produk minuman dan makanan yang mengandung jahe. Untuk menyusun pola makan harian yang tetap bergizi meski sedang mual, Bunda bisa membaca makanan sehat untuk ibu hamil. Pembahasan lebih luas tentang pilihan obat mual ibu hamil juga tersedia, begitu pula ulasan tentang vitamin ibu hamil yang sering ditanyakan bersamaan dengan keluhan ini.

Menariknya, Kemenkes RI menyebut vitamin B6 sebagai salah satu contoh obat anti mual yang termasuk aman dikonsumsi ibu hamil. Ini sejalan dengan rekomendasi WHO di atas. Meski begitu, tetap konsultasikan dengan dokter atau bidan sebelum memulai suplemen apa pun, karena kebutuhan tiap ibu berbeda.

Prinsip Aman Minum Obat Selama Kehamilan

Apa pun obatnya, termasuk ondansetron, ada prinsip yang perlu dipegang. Kemenkes RI memberikan beberapa tips aman mengonsumsi obat untuk ibu hamil dan menyusui:

  • Pertimbangkan mengatasi keluhan tanpa menggunakan obat, terutama pada 3 bulan pertama kehamilan.
  • Selama masa kehamilan, disarankan tidak minum obat atau suplemen vitamin yang dijual bebas tanpa berkonsultasi dengan dokter, bidan, dan apoteker.
  • Sebaiknya tidak mengonsumsi obat resep dokter dan obat tradisional secara bersamaan tanpa berkonsultasi dengan tenaga medis atau dokter yang merawat.
  • Hindari mengonsumsi jamu kemasan ataupun obat tradisional yang tidak memiliki izin BPOM.
  • Selalu informasikan kepada dokter atau bidan yang merawat bahwa Anda sedang hamil atau menyusui, agar mereka meresepkan obat yang aman.

Kemenkes RI juga mengingatkan untuk mencatat reaksi alergi dan jenis obat baru yang diresepkan, memeriksa tanggal kedaluwarsa dan kondisi kemasan obat yang diterima, serta memastikan membeli obat di apotek yang terpercaya agar mutunya terjamin.

Prinsip yang sama berlaku untuk obat lain yang sering ditanyakan ibu hamil, misalnya paracetamol untuk ibu hamil. Polanya selalu sama: tenaga kesehatan yang menilai, bukan tebakan sendiri atau saran dari grup obrolan.

Perhatian. Jangan pernah memakai sisa resep ondansetron milik orang lain, memakai kembali resep lama dari kehamilan sebelumnya, atau menambah dosis sendiri karena mual belum reda. Kemenkes RI menyarankan agar ibu hamil tidak minum obat yang dijual bebas sekalipun tanpa berkonsultasi lebih dulu dengan dokter, bidan, dan apoteker. Keputusan minum obat saat hamil harus selalu lewat konsultasi tenaga kesehatan, karena hanya mereka yang bisa menimbang manfaat dan risikonya untuk kondisi Bunda dan janin.

Kapan Harus ke Dokter

Kemenkes RI menegaskan bahwa mual dan muntah saat hamil merupakan hal yang wajar karena merupakan salah satu tanda kehamilan normal, dan tetap sarankan pemeriksaan rutin ke dokter untuk memantau kondisi kehamilan. Namun Kemenkes RI juga menyebutkan bahwa Anda disarankan memeriksakan diri lebih sering ke dokter jika mual dan muntah selama hamil bertambah parah atau disertai gejala berikut:

  1. Sakit perut.
  2. Demam.
  3. Jantung berdebar-debar.
  4. Pusing atau terasa akan pingsan.
  5. Sakit kepala yang muncul berkali-kali.
  6. Urine keluar sedikit atau berwarna gelap.
  7. Muntah yang mengandung darah atau berwarna kecoklatan.
  8. Tidak dapat makan dan minum sama sekali.
  9. Tubuh terasa sangat lelah.
  10. Penurunan berat badan.
  11. Linglung.

Tanda-tanda ini penting dikenali karena beberapa di antaranya mengarah ke dehidrasi dan hiperemesis gravidarum, kondisi yang menurut Kemenkes RI memerlukan penanganan intensif untuk mencegah komplikasi. Selain itu, Kemenkes RI juga meminta ibu hamil segera ke dokter atau bidan bila setelah minum obat muncul keluhan seperti mual muntah, nyeri kepala hebat, jantung berdebar-debar dan keringat dingin, gatal-gatal seluruh tubuh, atau mata bengkak.

Datang memeriksakan diri bukan berarti Bunda berlebihan atau merepotkan. Justru itu langkah yang tepat, dan tenaga kesehatan ada untuk membantu, bukan menghakimi. Bila Bunda masih punya pertanyaan seputar kehamilan yang ingin ditelusuri lebih dulu sebelum kontrol, Asisten AI Bunda bisa menjadi teman mencari informasi awal, meski tetap bukan pengganti pemeriksaan langsung.

Menutup semuanya, ondansetron bukan obat yang perlu ditakuti, tetapi juga bukan obat yang boleh diminum sembarangan. Sebagian besar penelitian yang dirangkum MotherToBaby bersifat menenangkan, sementara sebagian kecil menyisakan pertanyaan yang belum terjawab tuntas. Di tengah ketidakpastian seperti itu, jalan yang paling aman dan paling melegakan tetap sama: bicarakan dengan dokter atau bidan Bunda, sampaikan seberapa berat gejalanya, dan putuskan bersama. Untuk menelusuri topik terkait lebih jauh, Anda bisa mengunjungi kumpulan artikel kehamilan di Asuh Anak.

Sumber

Artikel ini disusun sebagai edukasi dan bukan pengganti konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan. Informasi di sini tidak boleh dijadikan dasar untuk memulai, menghentikan, atau mengubah dosis obat apa pun sendiri. Untuk diagnosis, pilihan obat, dan dosis yang sesuai dengan kondisi Anda dan janin, silakan berkonsultasi dengan bidan, dokter, atau petugas kesehatan terdekat.

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah ondansetron aman untuk ibu hamil?
Menurut MotherToBaby yang diterbitkan di NCBI Bookshelf (National Library of Medicine), sebagian besar penelitian tidak melaporkan peningkatan kemungkinan cacat lahir pada ribuan orang yang memakai ondansetron saat hamil. Beberapa penelitian memang melaporkan peningkatan kurang dari 1% untuk celah langit-langit atau kelainan jantung, tetapi penelitian lain tidak mengonfirmasi temuan itu. Karena bukti ini masih perlu ditimbang per kasus, keputusan memakai atau tidak memakainya harus dibuat bersama dokter atau bidan yang memeriksa kondisi Bunda.
Kapan dokter meresepkan ondansetron untuk ibu hamil?
Kemenkes RI menjelaskan bahwa obat dan vitamin baru akan diberikan oleh dokter jika ibu hamil mengalami gejala morning sickness yang parah. Pada kondisi mual dan muntah yang berat, dokter akan menimbang manfaat meredakan gejala dibanding risikonya, termasuk risiko bila mual muntah dibiarkan sampai menyebabkan dehidrasi. Ondansetron bukan obat pertama yang otomatis diberikan, dan pilihannya ditentukan oleh tenaga kesehatan, bukan oleh pasien sendiri.
Apakah ondansetron menyebabkan cacat lahir?
MotherToBaby menjelaskan bahwa dari seluruh bayi yang lahir setiap tahun, sekitar 3 dari 100 bayi (3%) memiliki cacat lahir, dan angka ini berlaku pada kehamilan mana pun tanpa terkait obat apa pun. Beberapa penelitian melaporkan peningkatan kurang dari 1% untuk celah langit-langit atau kelainan jantung, namun penelitian lain tidak mengonfirmasinya. Sebagian besar penelitian tidak melaporkan peningkatan kemungkinan cacat lahir, sehingga kesimpulannya belum seragam dan perlu dibicarakan dengan dokter.
Bolehkah ibu hamil membeli ondansetron sendiri di apotek?
Tidak. Kemenkes RI menyarankan agar selama masa kehamilan ibu tidak minum obat atau suplemen vitamin yang dijual bebas tanpa berkonsultasi dengan dokter, bidan, dan apoteker. Ondansetron adalah obat yang penggunaannya diresepkan tenaga kesehatan setelah menilai kondisi Bunda. Membeli dan meminumnya sendiri berarti melewatkan penilaian penting soal manfaat, dosis, dan keamanan.
Apa bedanya morning sickness dan hiperemesis gravidarum?
Menurut Kemenkes RI, mual dan muntah di awal kehamilan (morning sickness) adalah hal yang wajar dan umumnya tidak membahayakan ibu maupun janin. Pada sebagian ibu, gejala yang parah dapat berlanjut menjadi hiperemesis gravidarum, yaitu mual dan muntah parah yang rentan menyebabkan dehidrasi dan penurunan berat badan yang drastis. Hiperemesis gravidarum memerlukan penanganan intensif untuk mencegah komplikasi, jadi jangan ditunda memeriksakannya.
Bolehkah ibu menyusui minum ondansetron?
MotherToBaby menyebutkan bahwa informasi tentang penggunaan ondansetron selama menyusui masih terbatas, dan efek samping pada bayi yang menyusu belum pernah dilaporkan. Ondansetron juga pernah diberikan langsung kepada bayi berusia semuda satu bulan. Meski begitu, sampaikan semua pertanyaan seputar menyusui kepada dokter atau bidan Anda sebelum memakai obat ini.
Apa yang bisa dicoba sebelum minum obat antimual?
Pedoman perawatan antenatal WHO merekomendasikan jahe, chamomile, vitamin B6, dan/atau akupunktur untuk meredakan mual di awal kehamilan, disesuaikan dengan preferensi ibu dan pilihan yang tersedia. Kemenkes RI juga menyarankan langkah sederhana seperti makan porsi kecil tapi lebih sering, menghindari makanan pedas dan berlemak, minum air putih lebih banyak, serta cukup istirahat. Bila cara-cara ini belum menolong dan gejala makin berat, barulah bicarakan pilihan obat dengan tenaga kesehatan.

Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.

Punya pertanyaan seputar kehamilan?

Tanya lewat WhatsApp