Baru: alat cek usia dan milestone anak sudah bisa dipakai gratis. Coba sekarang

Kehamilan

Anemia pada Ibu Hamil: Bahaya, Gejala, dan Penanganannya

Oleh Tim Redaksi Asuh Anak· 13 menit baca

Anemia pada Ibu Hamil: Bahaya, Gejala, dan Penanganannya

Anemia pada ibu hamil adalah kondisi ketika kadar hemoglobin dalam darah Bunda berada di bawah batas normal kehamilan, sehingga kemampuan darah mengantarkan oksigen ke seluruh tubuh dan ke janin ikut menurun. WHO mendefinisikan anemia sebagai kondisi ketika jumlah sel darah merah atau konsentrasi hemoglobin di dalamnya lebih rendah dari normal, dengan batas untuk ibu hamil yaitu kadar hemoglobin di bawah 110 g/L pada ketinggian permukaan laut. Kemenkes RI memakai batas yang sama, yakni kondisi ibu dengan kadar hemoglobin di bawah 11. Kondisi ini sangat umum, dan kabar baiknya, anemia termasuk masalah gizi yang bisa dicegah serta ditangani. Artikel ini akan membahas penyebab, gejala, bahaya, cara memastikan, hingga penanganannya dengan bahasa yang mudah dipahami.

Apa Itu Anemia pada Ibu Hamil?

Hemoglobin adalah zat di dalam sel darah merah yang bertugas membawa oksigen. Ketika kadarnya turun, tubuh mendapat pasokan oksigen yang kurang optimal, dan itulah yang membuat Bunda mudah merasa lemas. Kemenkes RI menjelaskan anemia secara sederhana sebagai kondisi saat tubuh kekurangan sel darah merah atau ketika sel darah merahnya tidak berfungsi dengan baik.

Pada kehamilan, batas normalnya berbeda dengan perempuan yang tidak hamil. WHO menetapkan ambang di bawah 110 g/L, yang setara dengan 11 g/dL, sebagai batas anemia untuk ibu hamil di dataran rendah. Angka ini penting dipahami karena banyak Bunda yang membandingkan hasil labnya dengan patokan orang dewasa pada umumnya, lalu bingung sendiri. Pembahasan lebih rinci soal angka acuan ini bisa Bunda baca di artikel tentang kadar Hb normal ibu hamil.

Seberapa umum anemia pada ibu hamil?

WHO memperkirakan pada tahun 2019 sebanyak 37 persen atau sekitar 32 juta ibu hamil berusia 15 sampai 49 tahun di dunia mengalami anemia. Di Indonesia, Kemenkes RI mengutip data Survei Kesehatan Indonesia 2023 yang mencatat 27,7 persen ibu hamil mengalami anemia, turun dari 48,9 persen pada data sebelumnya. Artinya, Bunda sama sekali tidak sendirian, dan kondisi ini adalah sesuatu yang sudah sangat dikenal serta rutin ditangani oleh tenaga kesehatan.

Anemia juga bukan masalah yang khusus menimpa ibu hamil saja. WHO mencatat pada tahun yang sama sekitar 30 persen atau 539 juta perempuan tidak hamil berusia 15 sampai 49 tahun dan sekitar 40 persen anak usia 6 sampai 59 bulan di dunia juga mengalami anemia. WHO menyebut Afrika dan Asia Tenggara memikul beban terberat, dengan 244 juta perempuan dan 83 juta anak yang terdampak di kawasan Asia Tenggara. Kemenkes RI, dengan mengacu data Survei Kesehatan Indonesia 2023, juga mencatat 16,3 persen anak usia 5 sampai 14 tahun mengalami anemia.

Untuk membaca angka-angka itu secara adil, WHO memakai kategori berbasis prevalensi guna menilai seberapa besar anemia menjadi masalah kesehatan masyarakat di suatu populasi: di bawah 5 persen berarti bukan masalah kesehatan masyarakat, 5 sampai 19 persen masalah ringan, 20 sampai 39 persen masalah sedang, dan 40 persen ke atas masalah berat. Angka Indonesia sebesar 27,7 persen berada di dalam rentang 20 sampai 39 persen tersebut. Bagi Bunda secara pribadi, angka ini tidak meramalkan apa pun tentang kehamilan Anda. Fungsinya hanya menjelaskan mengapa pemerintah dan tenaga kesehatan menaruh perhatian serius pada pencegahan anemia.

WHO juga menempatkan anemia sebagai persoalan besar dari sisi beban kesehatan, dengan perkiraan 50 juta tahun hidup sehat hilang akibat disabilitas pada tahun 2019. Menariknya, WHO menyebut setiap 1 dolar AS yang diinvestasikan untuk menurunkan anemia pada perempuan berpotensi menghasilkan sekitar 12 dolar AS imbal balik ekonomi. Ini menunjukkan bahwa upaya sesederhana memastikan Bunda tidak anemia punya nilai yang jauh melampaui satu kehamilan saja.

Ringkasan singkat. Anemia pada ibu hamil dipastikan lewat pemeriksaan darah, bukan dari penampilan. Batasnya menurut WHO adalah hemoglobin di bawah 110 g/L (11 g/dL) untuk ibu hamil di dataran rendah.

Kenapa Ibu Hamil Rentan Mengalami Anemia?

Ada alasan yang sangat masuk akal mengapa kehamilan membuat Bunda lebih rentan anemia, dan ini bukan karena Bunda kurang menjaga diri. Kemenkes RI menjelaskan bahwa kebutuhan zat besi meningkat selama kehamilan untuk mendukung pertumbuhan janin dan penambahan volume darah ibu. Ketika kebutuhan naik tetapi asupan tidak ikut naik, selisihnya inilah yang memicu anemia.

Kemenkes RI bahkan merinci besarnya kebutuhan itu. Total kebutuhan zat besi selama kehamilan mencapai sekitar 800 mg, yang terdiri dari sekitar 300 mg untuk keperluan janin dan sekitar 500 mg untuk pembentukan hemoglobin ibu. Angka sebesar itu sulit dipenuhi hanya dari makanan sehari-hari tanpa perhatian khusus, dan itulah alasan mengapa asupan gizi selama kehamilan mendapat perhatian serius.

Penyebab lain di luar kekurangan zat besi

Meski kekurangan zat besi adalah penyebab utama, Kemenkes RI mencatat anemia juga dapat berakar dari sebab lain, antara lain:

  • Kekurangan zat gizi lain, seperti folat, vitamin B12, dan protein, yang sama-sama dibutuhkan untuk membentuk sel darah merah yang sehat.
  • Kehilangan darah, misalnya akibat perdarahan, cacingan, atau kondisi lain yang membuat darah keluar dari tubuh.
  • Penyakit kronis, seperti gangguan ginjal, kanker, atau penyakit autoimun.
  • Kelainan genetik, misalnya talasemia, yang memengaruhi bentuk atau umur sel darah merah.
  • Infeksi dan peradangan, yang dapat mengganggu produksi maupun ketahanan sel darah merah.

WHO melengkapi daftar itu dengan penyebab yang serupa: kekurangan zat besi akibat asupan makanan yang kurang memadai, kekurangan vitamin seperti vitamin A, folat, vitamin B12, dan riboflavin, infeksi seperti malaria, tuberkulosis, dan HIV, serta kehilangan darah yang berkaitan dengan kehamilan.

Karena penyebabnya beragam, penanganan anemia tidak bisa disamaratakan. Ini juga alasan mengapa anemia yang tidak membaik meski asupan sudah diperbaiki tetap perlu dievaluasi tenaga kesehatan, sebab bisa jadi akarnya bukan sekadar kurang zat besi. Bunda tidak perlu menebak sendiri masuk kategori yang mana, karena justru itulah tugas tenaga kesehatan yang memeriksa.

Gejala Anemia pada Ibu Hamil yang Perlu Dikenali

Kemenkes RI merangkum gejala anemia dengan istilah yang mudah diingat, yaitu 5L: lesu, letih, lemah, lelah, dan lalai. Kata "lalai" di sini merujuk pada sulitnya berkonsentrasi, sesuatu yang sering dikeluhkan tetapi jarang dikaitkan dengan anemia.

Kemenkes RI juga mengelompokkan keluhan berdasarkan tingkat keparahannya. Pada tahap ringan, keluhan yang menonjol adalah mudah capek setelah aktivitas ringan. Pada tahap sedang, mulai muncul jantung berdebar, kulit tampak pucat, sesak napas, dan rasa lelah. Pada tahap berat, keluhannya menjadi kelelahan terus-menerus, menggigil, pucat yang sangat mencolok, jantung berdebar, sesak napas, hingga nyeri dada. Kemenkes RI pada artikel tentang anemia dalam kehamilan juga menyebut tanda lain seperti denyut jantung meningkat, napas cepat, pusing, dan menurunnya kualitas kulit serta rambut.

Di sinilah letak tantangannya. Lelah, pusing, dan napas terasa lebih pendek adalah keluhan yang juga dialami banyak ibu hamil yang sama sekali tidak anemia. Karena itu, gejala berguna sebagai alarm untuk memeriksakan diri, bukan sebagai alat diagnosis. Bunda tidak perlu cemas berlebihan setiap kali merasa lelah, tetapi juga jangan buru-buru menyimpulkan bahwa semua keluhan itu "wajar saja karena hamil" tanpa pernah dicek.

Catatan Bunda. Jangan mendiagnosis anemia sendiri dari cermin. Wajah pucat bisa punya banyak sebab, dan sebaliknya, anemia ringan sering tidak menampakkan tanda yang jelas. Satu-satunya cara memastikan adalah pemeriksaan kadar hemoglobin, dan itu sudah menjadi bagian dari pemeriksaan kehamilan rutin.

Bahaya Anemia pada Ibu Hamil bagi Ibu dan Bayi

Bagian ini perlu dibaca dengan kepala dingin. Tujuannya bukan menakut-nakuti, melainkan menjelaskan mengapa tenaga kesehatan menaruh perhatian besar pada anemia, dan mengapa pemeriksaan rutin itu berharga.

Menurut WHO, anemia selama kehamilan berkaitan dengan luaran ibu dan kelahiran yang kurang baik, termasuk kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, dan kematian ibu. Kemenkes RI menyebutkan risiko pada ibu berupa keguguran, persalinan prematur, serta hambatan tumbuh kembang janin. Pada bayi, Kemenkes RI menyebut risiko seperti asfiksia dan berat badan lahir rendah.

Kemenkes RI juga menjelaskan bahwa kecukupan zat besi berperan dalam mencegah perdarahan saat masa persalinan dan menurunkan risiko kematian ibu akibat perdarahan. Inilah alasan mengapa kadar hemoglobin selalu dipantau menjelang persalinan.

Namun ada hal penting yang perlu Bunda pegang: daftar risiko di atas adalah gambaran mengapa anemia perlu ditangani, bukan ramalan tentang kehamilan Bunda. Anemia yang terdeteksi dan ditangani sejak awal punya cerita yang sangat berbeda dengan anemia berat yang dibiarkan tanpa pemeriksaan sama sekali. Karena itu, respons yang tepat setelah membaca bagian ini bukanlah panik, melainkan memastikan jadwal kontrol kehamilan tidak terlewat.

Cara Memastikan Anemia: Pemeriksaan Hemoglobin

Anemia dipastikan lewat pemeriksaan darah untuk mengukur kadar hemoglobin, lalu hasilnya dibandingkan dengan ambang batas untuk ibu hamil. Pemeriksaan ini merupakan bagian dari rangkaian pemeriksaan laboratorium ibu hamil yang biasanya sudah dijadwalkan bidan atau dokter selama kehamilan, jadi Bunda tidak perlu meminta secara khusus.

Beberapa hal yang membantu Bunda menjalani prosesnya dengan tenang:

  • Hasil lab dibaca bersama tenaga kesehatan, bukan sendirian. Satu angka hemoglobin perlu dilihat bersama kondisi Bunda secara keseluruhan dan usia kehamilan.
  • Simpan dan bawa hasil pemeriksaan setiap kontrol. Catatan di Buku KIA memudahkan tenaga kesehatan melihat tren dari waktu ke waktu, bukan hanya satu titik.
  • Tanyakan bila ada yang tidak dipahami. Bertanya soal arti angka di lembar hasil bukan hal yang merepotkan, justru itu yang diharapkan.
  • Jangan bandingkan hasil dengan ibu hamil lain. Kondisi, usia kehamilan, dan riwayat kesehatan setiap orang berbeda.

Perlu juga dipahami bahwa bila anemia ditemukan, tenaga kesehatan mungkin perlu menelusuri penyebabnya lebih jauh, mengingat penyebab anemia beragam seperti dijelaskan sebelumnya. Proses penelusuran ini normal dan bukan pertanda kondisi Bunda buruk.

Penanganan dan Pencegahan Anemia pada Ibu Hamil

Sebelum masuk ke pembahasan ini, ada satu hal yang perlu ditegaskan lebih dulu: keputusan mengonsumsi obat, suplemen, atau tablet tambah darah selama kehamilan harus melalui konsultasi dengan dokter atau bidan. Artikel ini memaparkan apa yang dijelaskan sumber resmi, bukan resep untuk Bunda jalankan sendiri. Jenis, jumlah, dan lama pemberian perlu disesuaikan dengan hasil pemeriksaan dan kondisi masing-masing.

Tablet tambah darah menurut Kemenkes RI

Kemenkes RI menjelaskan bahwa tablet zat besi (Fe) merupakan tablet mineral yang diperlukan oleh tubuh untuk pembentukan sel darah merah atau hemoglobin. Menurut Kemenkes RI, ibu hamil dianjurkan mengonsumsi tablet Fe minimal sebanyak 60 tablet selama kehamilannya. Manfaat yang disebutkan Kemenkes RI antara lain menambah asupan nutrisi pada janin, mencegah anemia defisiensi zat besi, serta mencegah perdarahan saat masa persalinan.

Kemenkes RI juga memberi catatan praktis soal penyerapannya: konsumsi vitamin C yang cukup dapat meningkatkan proses penyerapan zat besi, sementara tablet tambah darah sebaiknya tidak diminum bersama teh atau kopi yang mengandung kafein. Untuk aturan minum, waktu, dan jumlah yang tepat sesuai kondisi Bunda, konsultasikan dengan dokter atau bidan yang mendampingi kehamilan Anda. Pembahasan yang lebih fokus pada sisi terapinya bisa Bunda lanjutkan di artikel tentang obat penambah darah untuk ibu hamil.

Perhatian. Jangan menambah, mengurangi, atau menghentikan sendiri tablet tambah darah maupun suplemen apa pun selama hamil, dan jangan mengikuti takaran yang dibagikan sesama ibu hamil di media sosial atau grup obrolan. Keputusan mengonsumsi obat dan suplemen saat hamil harus lewat konsultasi tenaga kesehatan, karena penanganan bergantung pada penyebab dan kadar hemoglobin masing-masing.

Dukungan dari makanan sehari-hari

Suplementasi berjalan beriringan dengan asupan harian, bukan menggantikannya. Kemenkes RI menyebut makanan kaya zat besi antara lain biji-bijian, daging merah, kacang-kacangan, sayuran hijau, dan hati. Untuk pencegahan dan penanganan, Kemenkes RI juga menganjurkan konsumsi protein hewani sebagai sumber zat besi, sumber folat seperti bayam, kacang-kacangan, dan hati, buah kaya vitamin C, serta makanan yang telah difortifikasi.

Bunda bisa merangkai semuanya menjadi menu yang realistis, bukan menu ideal yang justru bikin stres. Ide praktisnya bisa dilihat di panduan makanan sehat untuk ibu hamil. Zat gizi lain juga tidak kalah penting, karena Kemenkes RI mencatat kekurangan folat dan vitamin B12 dapat menjadi penyebab anemia. Karena itu kecukupan asam folat tetap perlu diperhatikan bersama zat besi.

Satu tips kecil yang sering membantu: pasangkan sumber zat besi dengan buah kaya vitamin C dalam satu waktu makan, dan beri jeda antara waktu minum teh atau kopi dengan waktu makan utama. Ini sejalan dengan penjelasan Kemenkes RI soal vitamin C yang membantu penyerapan dan kafein yang sebaiknya dihindari bersamaan dengan tablet tambah darah.

Bunda tidak perlu mengubah seluruh pola makan dalam semalam. Mulailah dari satu perubahan kecil yang benar-benar bisa dijalankan, misalnya menambahkan satu sumber protein hewani pada satu waktu makan, atau menutup makan siang dengan buah kaya vitamin C. Konsistensi selama berbulan-bulan jauh lebih berpengaruh daripada menu sempurna yang hanya bertahan tiga hari. Perlu diingat juga bahwa mual, muntah, dan selera makan yang berubah adalah bagian yang wajar dari kehamilan, jadi bila menu ideal terasa mustahil dijalankan pada masa-masa tertentu, itu bukan kegagalan Bunda. Ceritakan kendala itu kepada bidan atau dokter, karena mereka bisa membantu mencari jalan tengah yang realistis.

Suplemen lain di luar tablet tambah darah, termasuk berbagai produk vitamin kehamilan yang beredar bebas, juga sebaiknya tidak ditambahkan sendiri tanpa sepengetahuan tenaga kesehatan. Lebih banyak suplemen tidak otomatis berarti lebih baik, dan beberapa zat gizi justru saling memengaruhi penyerapannya.

Kapan Harus ke Dokter atau Bidan

Rutin memeriksakan kehamilan adalah cara paling andal untuk menemukan anemia sejak dini, seringkali bahkan sebelum keluhan terasa mengganggu. Jadikan kontrol kehamilan sebagai kebiasaan, bukan sesuatu yang dilakukan hanya saat ada masalah.

Selain jadwal rutin, segera hubungi bidan, dokter, atau fasilitas kesehatan bila Bunda mengalami:

  • Rasa lemas atau kelelahan terus-menerus yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
  • Sesak napas, termasuk saat melakukan aktivitas ringan atau saat beristirahat.
  • Jantung berdebar atau denyut terasa cepat tanpa sebab yang jelas.
  • Nyeri dada, pusing berat, atau rasa hampir pingsan.
  • Kulit, bibir, atau kelopak mata bagian dalam tampak sangat pucat.
  • Perdarahan dari jalan lahir, atau gerakan janin yang terasa berkurang.
  • Hasil pemeriksaan menunjukkan kadar hemoglobin rendah, meski Bunda merasa baik-baik saja.

Nyeri dada, sesak napas berat, dan pucat yang mencolok adalah keluhan yang Kemenkes RI kaitkan dengan anemia tahap berat, jadi jangan menundanya. Perlu ditegaskan, datang memeriksakan diri bukan berarti Bunda berlebihan atau merepotkan. Tenaga kesehatan ada untuk membantu, dan lebih baik memastikan lalu lega daripada menebak-nebak sambil cemas di rumah.

Anemia pada ibu hamil adalah kondisi yang umum, terukur, dan bisa ditangani. Dengan angka 27,7 persen ibu hamil di Indonesia menurut data Survei Kesehatan Indonesia 2023 yang dikutip Kemenkes RI, ini jelas bukan kondisi langka yang perlu membuat Bunda merasa gagal. Yang membedakan hasil akhirnya bukan seberapa sempurna Bunda menjaga kehamilan, melainkan seberapa rutin kondisi ini dipantau dan ditindaklanjuti bersama tenaga kesehatan.

Langkah-langkah utamanya sederhana: jangan lewatkan kontrol kehamilan dan pemeriksaan hemoglobin, penuhi asupan zat besi serta zat gizi pendukung dari makanan harian, ikuti arahan bidan atau dokter soal tablet tambah darah, dan segera periksa bila muncul keluhan yang mengganggu. Bila ada pertanyaan lanjutan seputar kehamilan, Bunda bisa menelusuri kumpulan artikel kehamilan di Asuh Anak atau berdiskusi lewat Asisten AI Bunda sebagai teman mencari informasi awal, dengan catatan bahwa keputusan medis tetap berada di tangan tenaga kesehatan yang memeriksa Bunda langsung.

Sumber

Artikel ini disusun sebagai edukasi dan bukan pengganti konsultasi langsung dengan tenaga kesehatan. Informasi mengenai tablet tambah darah dan zat besi di atas dikutip dari sumber resmi dan bukan anjuran dosis untuk Anda jalankan sendiri. Keputusan mengonsumsi obat atau suplemen apa pun selama kehamilan harus melalui konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk diagnosis, dosis, dan penanganan yang sesuai dengan kondisi Anda, silakan berkonsultasi dengan bidan, dokter, atau petugas kesehatan terdekat.

Pertanyaan yang sering muncul

Berapa kadar Hb yang disebut anemia pada ibu hamil?
WHO mendefinisikan anemia pada ibu hamil sebagai kadar hemoglobin di bawah 110 g/L (setara 11 g/dL) pada ketinggian permukaan laut. Kemenkes RI juga memakai batas yang sama, yaitu kondisi ibu hamil dengan kadar hemoglobin di bawah 11. Angka ini hanya bisa dipastikan lewat pemeriksaan darah, bukan dengan menebak dari wajah yang tampak pucat.
Apakah anemia saat hamil berbahaya untuk bayi?
Menurut WHO, anemia dalam kehamilan berkaitan dengan luaran ibu dan kelahiran yang kurang baik, termasuk kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, dan kematian ibu. Kemenkes RI juga menyebut risiko keguguran, persalinan prematur, serta hambatan tumbuh kembang janin. Meski begitu, anemia adalah kondisi yang bisa dicegah dan ditangani, terutama bila terdeteksi lebih awal lewat pemeriksaan rutin.
Apa gejala anemia pada ibu hamil yang paling sering muncul?
Kemenkes RI merangkum gejala anemia dengan istilah 5L, yaitu lesu, letih, lemah, lelah, dan lalai. Gejala lain yang sering menyertai adalah kulit tampak pucat, jantung berdebar, sesak napas, dan pusing. Karena keluhan ini mirip dengan keluhan kehamilan pada umumnya, gejala saja tidak cukup untuk memastikan dan tetap perlu dikonfirmasi lewat pemeriksaan darah.
Kenapa ibu hamil lebih mudah terkena anemia?
Kemenkes RI menjelaskan bahwa kebutuhan zat besi meningkat selama kehamilan untuk mendukung pertumbuhan janin dan penambahan volume darah ibu. Bila asupan tidak mencukupi kebutuhan yang naik itu, risiko anemia ikut meningkat. Inilah sebabnya asupan gizi dan pemeriksaan rutin selama kehamilan menjadi sangat penting.
Apakah anemia pada ibu hamil bisa sembuh?
Anemia pada ibu hamil umumnya dapat ditangani, terutama bila penyebabnya kekurangan zat besi dan ditemukan lebih awal. Penanganannya bergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya, sehingga perlu dinilai oleh tenaga kesehatan. Konsultasikan dengan dokter atau bidan agar penanganan yang diberikan sesuai dengan kondisi Anda.
Bagaimana cara agar zat besi lebih mudah diserap tubuh?
Menurut Kemenkes RI, konsumsi vitamin C yang cukup dapat meningkatkan proses penyerapan zat besi. Sebaliknya, Kemenkes RI mengingatkan agar tablet tambah darah tidak diminum bersama teh atau kopi yang mengandung kafein. Untuk aturan minum yang tepat sesuai kondisi Anda, tanyakan langsung kepada bidan atau dokter.
Kapan sebaiknya ibu hamil memeriksakan kadar Hb?
Pemeriksaan kadar hemoglobin merupakan bagian dari pemeriksaan kehamilan rutin, sehingga waktunya akan diarahkan oleh bidan atau dokter yang mendampingi kehamilan Anda. Yang terpenting adalah tidak melewatkan jadwal kontrol kehamilan. Bila muncul keluhan seperti sangat lemas, sesak napas, atau jantung berdebar, sebaiknya segera periksakan diri tanpa menunggu jadwal berikutnya.

Konten ini bersifat edukasi dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan. Untuk keputusan medis, hubungi dokter atau bidan Anda.

Punya pertanyaan seputar kehamilan?

Tanya lewat WhatsApp